Atasi Rasa Gugup Saat Interview Cabin Crew

(photo source: theladders.com)

Pernah merasa lidah kelu waktu menjalani interview cabin crew? Tenang saja, kamu tidak sendirian kok. Semua orang pernah mengalami hal ini, bahkan saya pun dulunya begitu.

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya kenapa sih kita gugup? Kenapa telapak tangan basah dan kening kita berkeringat tanpa alasan saat ditanya oleh rekruter? 

Ada dua alasan utama kenapa kita merasa gugup saat menjalani interview atau presentasi. 

Satu, kita tidak siap mental.

Dua, kita tidak siap material.

Kedua jenis ketidaksiapan ini kedengarannya sepele ya, tapi inilah akar masalah dari segala penolakan yang dihadapi oleh banyak kandidat pada saat interview. Kita perlu mengenali apa masalah yang kita miliki sebelum mencari solusinya. Yuk, kenali mana jenis ketidaksiapan yang mengganggu dan membuat kamu gugup saat interview.

Ketidaksiapan Mental

Ini adalah faktor paling utama dan bisa dibilang berakibat paling fatal bagi kandidat. Sebetulnya untuk interview pekerjaan apapun, semua kandidat harus mempersiapkan mental sebaik mungkin. Tapi untuk interview cabin crew, hal yang satu ini perlu mendapat perhatian khusus. 

Kenapa?

Karena tidak seperti interview pekerjaan lainnya yang bertanya mengenai pengalaman atau kontribusi apa yang bisa diberikan kandidat kepada perusahaan, interview cabin crew sering kali diwarnai pertanyaan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan tersebut.

Beberapa airlines memiliki cara tersendiri dalam menggali potensi kandidat yang tepat untuk posisi yang mereka tawarkan. Kita tidak akan pernah tahu metode seleksi yang mereka gunakan. 

Makanya jangan heran bila rekruter akan menanyakan hal-hal seperti berikut ini.

“If you had a million dolllars, what would you do with that money?”

“If you could go to one place in the world and stay there permanently, where would it be? And why?”

“Do you have a pet? What is its name and how did you find your pet?”

Mungkin kalian akan berpikir, pertanyaan macam apa ini? Tidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan yang kalian lamar. 

Tapi percayalah ketiga contoh pertanyaan tersebut sudah didesain sedemikian rupa untuk melihat kepribadian kandidat dan jawaban serta cara kalian menjawabnya bisa memengaruhi penilaian rekruter.

Ketidaksiapan mental juga bisa datang dari kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Pada saat melihat kandidat lain, biasanya kita sering “playing judge” dan menebak-nebak apakah dia akan lolos sampai tahap akhir atau tidak.

“Wah, dia pasti masuk nih. Kece banget penampilannya.”

“Orang itu ex crew di maskapai asing, pasti dia lolos deh soalnya berpengalaman.”

Secara tidak langsung main tebak-tebakan nasib seperti ini sama dengan mengerdilkan diri kita sendiri. Kita membandingkan penampilan dan peruntungan kita dengan orang lain yang belum tentu juga berhasil. 

Memangnya kenapa kalau orang lain sudah pernah bekerja untuk airlines lain? Atau kenapa kalau dia berpakaian lebih kece dengan tas dan sepatu bermerk? 

Kelebihan orang lain tidak seharusnya menjadi tolak ukur kita untuk bisa sukses. Bahkan kita seharusnya tidak melihat hal tersebut sebagai batu sandungan kita yang terkesan ‘kurang wow’ dibanding kandidat tersebut.

Kita harus fokus pada kelebihan diri sendiri dan percaya diri. Apa yang kita miliki belum tentu dimiliki oleh orang lain. Setiap orang punya kemampuan dan nilai plus masing-masing, jangan merasa inferior ataupun superior. 

Orang yang kelihatan minder atau kepedean tidak pernah terlihat menarik di mata siapapun, terlebih di mata rekruter. Kita tidak mau jadi orang yang terlihat malu-malu atau sombong. Butuh kepercayaan diri sekaligus kerendahan hati agar kita terlihat menarik dan disenangi oleh rekruter, sehingga mereka akan meloloskan kita ke tahapan seleksi berikutnya.

Dan jangan pernah memperlakukan sesama kandidat sebagai saingan. Karena itu akan mempengaruhi sikap kita dan membuat kita terlihat pasif atau agresif di mata rekruter. Anggaplah mereka sebagai teman seperjuangan karena siapa tahu mereka akan menjadi teman satu batch atau flatmate bila kalian sama-sama diterima bekerja di maskapai tersebut.

Ketidaksiapan Material

“Saya belum punya paspor, tapi mau ikutan rekrutmen cabin crew. Bisa nggak ya?”

“Gigiku masih dibehel, apa boleh aku ikutan rekrutmen?”

“Bolehkah datang rekrutmen tanpa memakai blazer?”

Ini adalah sebagian dari beragam jenis pertanyaan yang sering dilontarkan oleh kandidat sebelum menghadiri rekrutmen. Ketiganya termasuk dalam aspek material, yaitu kesiapan secara fisik yang perlu dipenuhi oleh kandidat. 

Coba deh dipikir, kebanyakan pertanyaan tersebut datang dari keraguan. Bisa jadi kandidat belum pernah datang ke rekrutmen cabin crew sebelumnya sehingga pertanyaan sejenis ini muncul. Kalau kasusnya demikian, maka wajar saja pertanyaan ini diajukan. Tapi nyatanya mereka yang sudah berkali-kali ikutan rekrutmen masih saja menanyakan hal-hal ini.

Untuk paspor, sebagian besar maskapai punya toleransi dan mau menunggu kandidat untuk membuat paspor apabila mereka lolos sampai tahap berikutnya dan bahkan terpilih untuk mengisi posisi cabin crew. Tapi perlu diketahui, tidak semua maskapai memiliki toleransi yang sama. 

Bila kita serius ingin menjadi cabin crew, maka kesiapan dokumen seharusnya tidak ditawar. Apa yang diminta, itulah yang kita sediakan. 

Bayangkan bila kalian sudah bekerja sebagai cabin crew dan kalian ketinggalan paspor atau salah satu dokumen penting lainnya. Menurut kalian, apakah maskapai akan dengan sabar menunggu kalian untuk kembali ke apartemen dan mengambil dokumen tersebut? Tentu tidak. Kalian akan digantikan oleh cabin crew lain yang standby dan memiliki dokumen terbang lengkap.

Mengenai gigi, sebagian besar maskapai akan menanyakan mengenai status behel apakah bisa dilepas dalam waktu dekat. Bahkan ada maskapai yang jelas-jelas menyuruh kandidat pulang tanpa bertanya mengenai status behel. Kalau kalian masih ragu dan jangka waktu pemakaian behel masih jauh dari pelepasan, mengapa kalian harus datang ke rekrutmen? 

Bukan melarang untuk mencoba peruntungan, tapi kalau kita sendiri ragu akan diterima dengan behel, kenapa masih bersikeras? Lebih baik datang pada saat kondisi fisik sudah seratus persen siap dan memberi rasa percaya diri.

Sedangkan pertanyaan mengenai blazer, sebetulnya tidak ada aturan baku untuk memakainya atau tidak. Tapi perlu diingat bahwa rekrutmen mengharuskan kandidat untuk memakai business attire, jadi berpenampilanlah serapi mungkin seolah kalian sudah menjadi cabin crew. 

Dan bila dipikir lagi, hampir semua seragam cabin crew memiliki blazer, jadi tidak ada salahnya untuk berinvestasi dan membeli atau menjahit blazer yang dapat mendukung penampilan kita.

Kalaupun tidak memakai blazer, sebisa mungkin usahakan kemeja atau blus yang dipilih berkualitas baik dan tidak tembus pandang, tidak gampang berkerut atau lecek, dan dapat menyerap keringat dengan baik serta tidak mudah kotor terkena noda lipstik atau bedak. 

Segala sesuatu yang berhubungan dengan dokumen persyaratan serta penampilan masuk dalam aspek material. Pengetahuan mengenai pekerjaan serta informasi maskapai yang dituju juga termasuk aspek material. Persiapkan semua yang dibutuhkan sebaik mungkin. 

Buatlah check list apa saja yang harus dipersiapkan, sehingga pada hari interview tidak ada hal yang luput dari persiapan dan kita bisa menjalani rekrutmen dengan tenang dan percaya diri.

“I believe luck is preparation meeting opportunity. If you hadn’t been prepared when the opportunity came along, you wouldn’t have been lucky.” 

Oprah Winfrey

*) Artikel ini ditulis oleh Marintan Ompusunggu (@dearmarintan). Dilarang mengutip sebagian atau keseluruhan artikel, mempublikasikan ke media lain tanpa izin penulis atau Forum Pramugari. Terima kasih.

Use Facebook to Comment

comments

,

Leave a Reply

%d bloggers like this: