Belajar Arti Kehilangan

Salah satu ketakutan para cabin crew adalah kehilangan jam terbang karena penerbangannya dibatalkan. Entah itu karena cuaca buruk, bencana alam, situasi politik dan keamanan yang sedang tidak kondusif di suatu negara, atau karena hal teknis lainnya.

Kenapa hal itu menakutkan? Sebab perubahan jadwal yang tiba-tiba ini bisa berakibat panjang pada keseluruhan jadwal crew tersebut. Jam terbang yang awalnya banyak menjadi berkurang drastis. Ini akan mempengaruhi perolehan gaji di bulan berikutnya. Atau lebih kacaunya lagi, bila suatu penerbangan dibatalkan, crew tersebut tidak bisa pulang tepat waktu kembali ke basenya atau rencana liburannya menjadi berantakan karena satu penerbangan yang dibatalkan sering kali memicu penerbangan lainnya dibatalkan pula, minimal mengalami penundaan yang cukup mengganggu.

Jadi bisa dibayangkan saat saya mendapat kabar bahwa penerbangan Riyadh – New York, di mana saya seharusnya saya menjadi operating crew, dibatalkan akibat badai salju.

“Ya Tuhan, hilang deh 26 jam dari total flying time kita,” kata saya kepada flying partner saya Diana.

Wajah Diana kelihatan sedikit masam. Kami berdua membayangkan berapa banyak kerugian yang harus kami tanggung dari pembatalan penerbangan ini. Otak kami berputar cepat mengkalkulasi berapa kemungkinan gaji yang akan kami peroleh bulan depan.

“Duh, alamat terima basic salary deh ini.”

“In sha Allah, Bun, bakalan dapat gantinya. Pasti nanti ada rejeki yang lebih besar dikasih buat kita,” Diana mencoba berpikir positif, meskipun kami berdua sama-sama tahu bahwa mendapatkan penerbangan pengganti kecil sekali kemungkinannya terjadi.

Dan memang benar. Crew planner hanya memberikan kami penerbangan satu leg dari Riyadh ke Jeddah dengan kode penerbangan international. Saat saya mengecek statusnya di portal karyawan, saya menyadari bahwa penumpang kami yang seharusnya berangkat dari Riyadh menuju New York dialihkan ke Jeddah. Jadi penerbangan mereka dialihkan ke hari berikutnya, sehingga rutenya menjadi Riyadh – Jeddah – New York. Akan tetapi, kami hanya mengantarkan mereka dari Riyadh menuju Jeddah saja. Dari Jeddah akan ada satu set crew lainnya yang akan mengantarkan mereka dari Jeddah menuju New York. Kami hanya bisa gigit jari saja karena ternyata hanya penerbangan kami yang dibatalkan akibat badai salju yang sangat parah. Sementara penerbangan lainnya di hari-hari berikutnya boleh berangkat karena hujan salju telah berhenti mengamuk.

Seperti yang bisa saya duga, para penumpang boarding dengan wajah kusut karena kelelahan dan masih kesal karena penerbangan mereka sebelumnya dibatalkan. Apa boleh buat kami hanya bisa bersimpati sambil sesekali meminta maaf dan menjelaskan mengapa penerbangan tersebut dibatalkan. Faktor cuaca buruk tentu saja di luar kendali kami. Sebagian dari mereka bisa mengerti, namun sebagian lainnya merasa tidak peduli dan masih terbawa emosi. Maklum saja, mungkin mereka lelah dan barangkali ada janji atau acara yang harus dibatalkan di New York akibat batalnya penerbangan tersebut.

Kekesalan mereka tambah memuncak ketika mendarat di Jeddah dan pihak keamanan bandara meminta semua penumpang untuk turun dari pesawat. Sepertinya ada pemeriksaan secara menyeluruh sekali lagi. Sejak Trump menjadi Presiden Amerika Serikat, pemeriksaan keamanan dan keselamatan penerbangan untuk penerbangan dari dan menuju negara tersebut memang semakin ditingkatkan. Apalagi dengan situasi di berbagai negara belakangan ini yang bisa dibilang kurang aman, tidak heran bila pihak keamanan di bandara merasa perlu dilakukan pengecekan ulang sebelum pesawat diperbolehkan lepas landas.

Pada saat itulah penumpang kami marah-marah dan protes. Kelelahan bercampur kebingungan membuat mereka meluapkan emosi pada kami para awak kabin. Sebagai satu-satunya perwakilan dari maskapai yang berada di kabin, tentu saja hanya kami yang bisa mereka marahi dan jadi sasaran mengeluh.

Saya dan teman-teman yang lain menahan diri agar tidak ikut terbawa emosi. Suasana kabin semakin panas sampai akhirnya kapten membuat pengumuman sekali lagi bahwa seluruh penumpang dan awak kabin diharuskan turun dari pesawat, tanpa terkecuali. Tentu saja sebagai staf kami baru boleh turun setelah semua penumpang sudah turun. Pada akhirnya semua penumpang, suka ataupun tidak suka, turun dari pesawat.

Saat itulah saya melihat Diana membangunkan seorang bapak tua yang duduk di barisan kursi terakhir. Dia tampak terlelap tidur, tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekelilingnya. Diana membangunkan bapak tua yang berasal dari Pakistan itu dan menawarinya segelas air putih.

“Thank you,” katanya sambil menerima gelas air dari tangan Diana, “Are we already in New York now?”

“No, Sir, we just landed in Jeddah now. You will continue the flight to New York from here, along with other passengers who will board from Jeddah.”

“Oh, I see. Just give me some moment.”

Bapak itu membetulkan topi tradisional yang dipakainya, lalu menyingkap selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia pun minta dipanggilkan seorang ground staff untuk membantunya turun mengenakan kursi roda.

Pada saat selimutnya tersingkap, barulah kami melihatnya. Bapak itu dengan hati-hati membungkuk untuk mengambil sesuatu yang diletakkannya di bawah kursi penumpang. Sebuah kaki palsu sebelah kiri yang tampak kaku dan keras. Lalu dia memasang kaki palsu tersebut di tempat kosong yang seharusnya berisi tulang, betis, telapak dan jari-jari kaki.

Ground staff pun datang dan dengan sigap membantu bapak tersebut menaiki kursi roda. Saat kursi roda bergerak menuju pintu deplaning, bapak yang kami tidak ketahui namanya tersebut pun tersenyum dan melambai pada kami.

“Shukran (*artinya terima kasih),” senyumnya merekah dan wajahnya tampak bersyukur karena telah dilayani dengan baik. Meskipun yang bisa kami lakukan pada saat itu hanyalah memberikan segelas air putih dan memanggilkan petugas untuk membantunya turun dari pesawat.

Mata Diana tampak berkaca-kaca menahan air mata.

Saya jadi malu pada diri sendiri. Penerbangan ini seperti menampar saya di muka dan mengajarkan saya tentang arti kehilangan yang sesungguhnya. Saya baru kehilangan jam terbang dan layover saja sudah bersungut-sungut. Sementara ada orang lain yang kehilangan kaki, tapi masih semangat dan tampak ceria naik pesawat meskipun penerbangan sebelumnya sempat batal. Kehilangan yang saya alami masih belum ada artinya kalau dibandingkan dengan bapak itu.

Malam itu, saya kembali ke apartemen saya dengan perasaan campur aduk. Saya mengingatkan diri sendiri untuk melihat segala sesuatu dengan lebih positif. If something happens, it doesn’t mean that it is bad for us. Things happen for a reason. And when you think you are having a bad day, someone else might be having worse day than yours. But still, it doesn’t stop them from smiling. If they can do that, why can’t we?

Riyadh, Saudi Arabia
15 Maret 2017

Use Facebook to Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *