Are You Ready for Life After Flying?

Belakangan ini saya bicara dengan banyak cabin crew dari berbagai maskapai. Awalnya pembicaraan dibuka dengan menanyakan kabar mereka dan bagaimana kehidupan mereka sejauh ini sebagai cabin crew. Rata-rata masih berkomentar bahwa mereka menikmati segala hal yang mereka jalani. Ngopi cantik di Paris, icip-icip makan churros di Madrid, atau berbelanja kebutuhan bulanan dengan harga murah di Walmart di Amerika. What a lifestyle 🙂

Obrolan pun berlarut dan tiba pada suatu pertanyaan krusial yang saya rasa pada akhirnya akan dibahas oleh teman sesama crew. Terutama yang sudah terbang sekian lama, cukup untuk menyandang predikat senior di maskapai tempatnya bekerja.

“Babe, what are you gonna do after flying?” tanya salah satu teman saya yang bekerja untuk sebuah maskapai terkenal di salah satu negara Timur Tengah.

“You mean when I stop flying as a cabin crew?” tanya saya balik.

“Yes.”

Saya pun menjelaskan tentang rencana ke depan, apa yang akan saya lakukan sekiranya saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan yang saya cintai ini. Kita memang harus realistis karena akan tiba waktunya kita harus meninggalkan pekerjaan ini. Entah karena memprioritaskan keluarga, memasuki usia pensiun atau karena (God forbids) sakit keras dan tubuh tidak cukup kuat untuk lanjut terbang. Setelah menjelaskan tentang rencana masa depan tersebut, saya pun bertanya balik kepada teman saya itu.

“What about you?”

“I don’t know. Gosh, it’s scary to even think about that. What would I do without this job?”

Jawaban dia membuat saya tersentak kaget. Teman saya ini jauh lebih senior daripada saya dan dia bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya kalau sudah tidak berstatus cabin crew lagi. Saya pun bertanya lebih lanjut lagi, mencoba mengerti apa yang dia maksud.

“I am so used to this kind of lifestyle. Having money and spending it for whatever I like, whenever I like. Hopping from one country to another, enjoying my layovers here and there and posting the photos on my facebook. My friends and family back home are so used to seeing my happy-go-lucky cabin crew lifestyle. I always have stories to tell, souvenirs to bring back home. I rarely look at price tags whenever I go shopping. What am I gonna do when I’m not a cabin crew anymore?!”

Tak berapa lama kemudian emoji muka panik pun berhamburan di whatsapp saya. Saat itulah saya sadar bahwa teman saya itu tidak siap meninggalkan gaya hidup yang sudah biasa dijalaninya selama menjadi cabin crew. Gaya hidup yang bisa dibilang di atas rata-rata orang kebanyakan dan bahkan membuat banyak orang iri.

Teman saya itu bukan satu-satunya yang merasa demikian di industri ini. Ada banyak crew lainnya yang saya temui dan saya ajak berbincang dan mengaku merasa demikian. Mereka sudah sangat terbiasa dengan segala bentuk kenyamanan dan kesenangan hidup yang ditawarkan pekerjaan ini. Mereka tidak bisa melihat diri mereka tidak lagi terbang dan menikmati apa yang saat ini masih mereka jalani. Mereka takut untuk membayangkan apa yang sekarang mereka punya tidak lagi ada di masa depan.

Dan itu semua terus terang memang menakutkan.

Saya dan teman saya tersebut menghabiskan total waktu percakapan selama kurang lebih tiga jam, mulai dari whatsapp dan berlanjut hingga ke video call. Kami mengurai apa yang mungkin membuat cabin crew takut melepaskan pekerjaan mereka. Kami membahas tentang banyak hal. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang kami saling tanyakan satu sama lain dan saya rasa berguna juga untuk siapapun yang membaca sebagai bahan untuk mengevaluasi diri.

1. Are we financially stable?
2. How much is the average of our monthly expenses?
3. Do we have responsibilities (house mortgage, sending money back home, etc.)? How much money left every month after paying for the responsibilities and our monthly expenses?
4. Do we have enough savings for the future?
5. Do we have credit card debts that we need to pay?
6. Do we have side income apart from this job’s salary?
7. How much money do you feel secure to have in order to retire from this job?

Sebenarnya masih ada banyak lagi pertanyaan yang saling kami tanyakan satu sama lain, tapi karena sifatnya personal maka tidak bisa saya paparkan di sini. Tujuh pertanyaan di atas saya rasa bersifat paling mendasar dan kalau mau jujur setiap cabin crew harus bertanya pada diri mereka sendiri untuk mengevaluasi keadaan finansial mereka saat ini dan di masa depan bagaimana.

Menjadi cabin crew memang menyenangkan. But like any other jobs in this world, there will come a time when we have to end the journey. Jangan sampai kita terlalu larut dalam kesenangan yang ditawarkan oleh pekerjaan ini sehingga lupa memikirkan tentang masa depan. Menabunglah dan kurangilah belanja yang tidak perlu. Punya barang branded boleh saja, asal pastikan bahwa barang itu memang kamu perlukan dan bukan berakhir di lemari sebagai pajangan. Berdebu, lapuk dan terlupakan. Pada akhirnya barang (sepatu, baju, tas, dan yang lainnya) akan bosan kamu pakai atau bahkan tidak pernah kamu pakai. Kamu mungkin membelinya hanya karena ingin memilikinya. Atau lebih kacaunya lagi hanya karena barang branded tersebut dijual dengan harga diskon dan mungkin suatu saat kamu akan memakainya. Entah kapan, tapi suatu saat. This is what we keep telling ourselves to justify our impulsive shopping activity, isn’t it?

Pastikan tabunganmu tidak berada dalam satu rekening dengan rekening gajimu. Ini untuk mencegahmu mencampuradukkan penggunaan uang yang seharusnya ditabung menjadi uang belanja. Jangan campurkan keduanya. Kalau memungkinkan, mulailah usaha sampingan atau investasikan uangmu dalam bisnis atau properti yang kamu lihat prospektif dan menguntungkan di masa depan. Bukan tidak mungkin hasil yang didapat dari usaha sampingan ini lebih besar daripada gaji yang didapatkan dari terbang sebagai cabin crew. Yang penting berkonsultasi terlebih dulu dengan orang yang lebih ahli dalam bidang tersebut. Kalaupun memulai bisnis, pastikan kamu mengerjakannya bersama orang-orang yang bisa dipercaya dan juga memiliki visi dan misi yang sama yang berorientasi profit.

Mulai berpikir ke depan dan dorong dirimu untuk bergerak maju supaya masa depan tanpa pekerjaan ini tidak lagi terlihat menakutkan. Bayangkan apa yang harus kamu lakukan seandainya maskapai tempatmu bekerja memutuskan untuk mengurangi karyawan dalam kurun waktu dua-tiga tahun ke depan. Dan hal itu sangat mungkin terjadi karena krisis ekonomi dan instabilitas politik dan keamanan di beberapa negara yang terjadi selama dua tahun belakangan. Bukan tidak mungkin maskapai mengurangi jumlah pesawat dan karyawan untuk dioperasikan. Dan bila hal ini terjadi, skenario terbaik adalah maskapai akan mengurangi jam terbang para cabin crew atau skenario terburuknya adalah menawarkan unpaid leave atau bahkan merumahkan cabin crew yang dianggap tidak memiliki performance sesuai standar yang ditetapkan.

Dan pada saat itu terjadi, apa yang akan kita lakukan? Cicilan rumah atau mobil tidak peduli status bekerja atau penggangguran. Tagihan yang perlu dibayar akan selalu setia menyapa kita setiap bulannya. Siapkah kita menghadapi itu semua? Atau bagaimana bila kita tiba-tiba diserang penyakit keras sehingga maskapai memutuskan untuk merumahkan kita dengan alasan unfit to fly. Siapkah kita melepas semua fasilitas dan kenyamanan yang selama ini kita nikmati dari perusahaan? Berapa banyak uang yang kita miliki di rekening tabungan dan berapa lama kita sanggup bertahan hidup dengan standar gaya hidup seperti cabin crew setelah kita sudah tidak lagi bekerja di maskapai?

Are we mentally ready for that?

 

# # #

 

 

*) This feature article is written by: Marintan Ompusunggu. Cabin crew and founder of forumpramugari.com. When not flying, she can be found reading books or writing blog posts. For business and personal queries, she can be reached by email at marintan.os@gmail.com. Interested to write for this feature? Send your thoughts and opinions about #CrewLife to forumpramugari@gmail.com with subject #CREWLIFE ARTICLE.

Use Facebook to Comment

comments

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *