Stop Body Shaming Anyone!

thou-shalt-not-be-judged-thoughts-on-online-body-shaming1

“Wah, gendutan ya sekarang!” tulis seseorang di kolom komentar pada sebuah foto instagram salah satu teman saya yang bekerja untuk sebuah maskapai domestik. Mata saya melotot membacanya, bukan hanya karena komentar itu kasar tapi karena di ujung kalimatnya, sang penulis menambahkan emoticon bergambar babi. Sudah tidak sopan, menghina pula!

Teman saya itu cukup baik untuk membalas dengan canggung bahwa sekarang dia memang banyak makan dan sedang berusaha untuk diet. Saya berusaha untuk berpikir positif tentang kebiasaan orang Indonesia yang suka mengomentari bentuk badan orang lain. Mungkin itu cara orang tersebut untuk menunjukkan perhatian pada temannya yang sudah lama tidak dia jumpai. Ya mungkin saja begitu, begitu pikir saya sampai akhirnya saya menemukan komentar-komentar lain di timeline path seorang teman yang juga seorang crew bekerja di sebuah maskapai berbasis di Timur Tengah. Di foto tersebut dia terlihat ceria, sedang berfoto bersama kawannya di dalam kabin pesawat. Beberapa komentar yang tertangkap mata saya antara lain seperti ini.

“Duh, itu baju udah kekecilan. Diganti dong!”

“Subur amat ya sekarang, hahaha”

dan berbagai komentar lainnya yang membuat saya sakit mata membacanya.

Lagi-lagi teman saya itu cukup baik untuk tidak membalas komentar-komentar tersebut dan memilih untuk mengabaikannya.

Saya sendiri pernah mengalami hal serupa. Baru-baru ini saat memposting foto layover di Paris, salah seorang teman lama berkomentar, “makin makmur aja, tan.” Saya membaca komentar tersebut saat baru saja kembali dari tugas terbang dan saat itu sedang lelah sekali. Membaca hal tidak mengenakkan sehabis pulang kerja bukanlah hal yang saya atau siapapun inginkan. Tapi saya berusaha berpikir positif dan bertanya pada sang komentator, apa maksudnya berkomentar demikian. Mungkin saja maksudnya sekarang saya sudah makmur sekali ya sampai bisa jalan-jalan ke Paris, padahal itu adalah bagian dari pekerjaan saya. Ya, siapa tahu saja maksudnya begitu.

Ini adalah foto saya yang dikomentari oleh teman dengan label "makin makmur aja".

Ini adalah foto saya yang dikomentari oleh teman dengan label “makin makmur aja”.

Ternyata saya salah. Yang dia maksud memang bentuk tubuh saya yang menurutnya kelihatan lebih besar daripada sebelumnya. Ini bukan kali pertama teman saya ini berkomentar begitu, biasanya saya diam saja dan menghapus komentar bernada menilai seperti itu. Kali ini saya lelah dan saya memutuskan untuk memberitahu dia bahwa saya tidak suka dikomentari seperti itu. Di luar dugaan, bukannya meminta maaf saya malah dituduh over-sensitif dan tidak bisa “survive” di dunia media sosial kalau saya sedikit-sedikit gampang tersinggung.

Well, let me tell you something.

We as cabin crew members, are fully aware of our appearance. Kami punya timbangan dan cermin untuk tahu setiap perubahaan yang terjadi pada tubuh kami. Kami tahu saat berat badan bertambah atau berkurang. Seragam kami akan memberi tahu perubahan itu, apakah terasa semakin longgar atau sempit. Tanpa perlu diberi tahu siapapun, kami akan melakukan segala upaya yang dibutuhkan untuk kembali ke bentuk badan ideal.

“I don’t care if anyone telling me fat, ugly or whatever, why should I care and get offended?” lanjut teman saya itu membela dirinya sendiri.

Terus terang saya geleng-geleng kepala sendiri membaca komennya. Ini saya yang terlalu sensitif atau dia yang terlalu insensitif ya? Kalau dia tidak peduli pada penampilannya, ya sudah jangan sama ratakan bahwa orang lain akan bersikap sama bila dikomentari demikian. Perlu diketahui lagi, teman saya tersebut tidak bekerja sebagai cabin crew. Ya mungkin itu sebabnya dia tidak terlalu peduli pada penampilannya.

Tapi saya peduli. Saya dan banyak teman seprofesi lainnya peduli. Kami yang bekerja sebagai cabin crew dan pekerjaan lainnya di bidang pelayanan akan selalu menjadi front-runner dalam berhadapan dengan para pengguna jasa kami. Penampilan merupakan salah satu aspek utama dan karenanya itu penting. Mungkin bagi kalian itu bukan hal yang penting atau bukan hal yang terlalu utama untuk dipikirkan. Tapi ingat, hal yang kurang penting bagi seseorang, belum tentu tidak penting bagi orang lain. Komentar asal bunyi yang menurut seseorang hanyalah ekspresi keakraban dalam pertemanan, belum tentu tidak menyakitkan bagi orang lain.

Sudah begitu banyak saya melihat teman-teman sesama cabin crew atau di bidang profesi sejenis lainnya yang menderita karena komentar demikian. They over exercise, eat super healthy foods and avoid eating or drinking even the slighest bit of their favorite meals or beverages. They take diet pills, diet supplementary drinks and do fasting. They starve themselves. Bukan hanya tubuh mereka saja yang menderita tapi juga kondisi mental mereka. All for what? For getting back to their old body shape because they are mentally tired to hear people body-shaming them.

Kalau kita benar-benar peduli pada orang lain, cobalah untuk memberi tahu secara personal lewat private message atau percakapan secara langsung. Bukan di depan umum atau menulis komentar di mana ratusan atau ribuan pasang mata bisa membacanya. Kalau memang peduli, kita bisa memberi rekomendasi cara yang baik untuk menurunkan berat badan atau makanan yang baik dikonsumsi bila ingin diet secara sehat. Itu kalau memang peduli ya. Kalau hanya sekedar berkomentar tentang betapa suburnya tubuh teman kita atau bagaimana dia harus membeli baju baru karena baju yang dipakainya saat ini sudah terlalu sempit, itu namanya public humiliation. And it’s not helpful at all.

Jadi, lain kali sebelum menuliskan komentar tentang penampilan orang lain… pikirkan dulu hal-hal berikut ini…

“Is it a nice thing to say?”

“Is it necessary to say it?”

“Is it helpful?”

“Is it going to hurt the other person’s feelings or not?”

*) Body shaming definition: the practice of making critical, potentially humiliating comments about a person’s body size or weight. An example of body shaming is telling a child that they are “too fat.” An example of body shaming is when thin women are told they are “too skinny.”

**) Baca dua link artikel berikut ini untuk tahu betapa seriusnya efek body-shaming terhadap orang yang menerima komentar tersebut.

1. Science Confirms: Fat Shaming Makes Things Worse

2. The Harmful Effects of Body Shaming and Why It Needs To Stop!

# # #

This article is written by: dearmarintan

Use Facebook to Comment

comments

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *