Kunjungan Forum Pramugari ke Museum Aviasi di Amerika

Lantai dasar National Air and Space Museum yang dikelola oleh Smithsonian Institute. Ada begitu banyak pengunjung dari berbagai latar belakang dan usia yang mengagumi koleksi pesawat dan benda menarik lainnya di museum ini.

Lantai dasar National Air and Space Museum yang dikelola oleh Smithsonian Institute. Ada begitu banyak pengunjung dari berbagai latar belakang dan usia yang mengagumi koleksi pesawat dan benda menarik lainnya di museum ini.

Pada tanggal 30 April – 5 Mei lalu, saya memutuskan untuk memberanikan diri dan melakukan solo trip ke Amerika Serikat. Tujuan yang saya pilih untuk didatangi adalah Washington DC, sebab di sana ada beragam museum yang bisa dikunjungi, salah satunya adalah museum penerbangan yang sangat terkenal. Museum tersebut adalah National Air & Space Museum yang dikelola oleh Smithsonian Institute.

Seperti museum Smithsonian lainnya, kunjungan ke museum ini gratis alias tidak dikenakan biaya masuk. Meski gratis, bukan berarti museum ini tidak dikelola dengan baik. Pendapatan dari museum ini diperoleh dari donasi pengunjung, donasi oleh instansi maupun individual yang dermawan, juga penjualan merchandise seputar aviasi yang pastinya bikin siapapun pecinta aviasi meleleh (dompetnya) hatinya..

Donasi dari pengunjung adalah salah satu cara museum ini memperoleh dana pemeliharaan museum. Lihat mata uang yang disumbangkan oleh para pengunjung menunjukkan betapa ramainya pengunjung dari berbagai belahan dunia yang datang ke sini.

Donasi dari pengunjung adalah salah satu cara museum ini memperoleh dana pemeliharaan museum. Lihat mata uang yang disumbangkan oleh para pengunjung menunjukkan betapa ramainya pengunjung dari berbagai belahan dunia yang datang ke sini.

National Air & Space Museum ini terbagi menjadi dua lokasi, yang pertama yaitu di pusat kota di Washington DC dan yang kedua di Chantilly, Virginia dekat dengan Dulles International Airport. Saya beruntung sekali bisa mengunjungi kedua museum tersebut di hari yang berbeda. Tentunya saya memulai kunjungan ke museum yang terletak di jantung kota DC terlebih dulu. Di sana ada banyak sekali diorama, patung, dan spare parts maupun badan-badan pesawat utuh dari berbagai masa.

Replika pesawat Lockheed Vega seperti yang dulu sering diterbangkan oleh Amelia Earheart, pilot wanita terkenal dalam sejarah aviasi.

Replika pesawat Lockheed Vega seperti yang dulu sering diterbangkan oleh Amelia Earheart, pilot wanita terkenal dalam sejarah aviasi.

Saya dibuat terkagum-kagum dengan koleksi yang dimiliki oleh museum ini. Sebab bukan hanya lengkap, tapi juga penyajian koleksinya terlihat sangat bagus dan menarik. Sejarah tentang dunia aviasi juga dipaparkan dengan sangat menarik, mulai dari penciptaan pesawat pertama oleh Wright Brothers, kisah hidup pilot wanita terkenal Amelia Earheart, sampai sejarah orang kulit hitam di dunia aviasi sebagai pilot dan pramugari.

Koleksi di museum ini bukan hanya pesawat komersial saja, tapi juga pesawat non-komersial seperti pesawat militer maupun pesawat luar angkasa. Terutama di hangar Steve F. Udvar Hazy yang memamerkan lebih banyak pesawat besar dibandingkan museum di Washington. Hangar tersebut bahkan memiliki Boeing 707 yang diterbangkan oleh TWA di tahun 1957 dan pesawat Concorde legendaris yang pernah dioperasikan oleh maskapai Air France. Ada pula Jet Clipper milik Pan Am yang bersejarah di masa penerbangan masih didominasi oleh kaum kelas atas.

Pan Am Jet Clipper yang terkenal membawa para penumpang kelas atas menjelajah dunia pada masanya. Lihat penampilan badan pesawat yang masih kokoh dan tampak mengkilap meskipun usianya sudah puluhan tahun.

Berbagai koleksi seragam pramugari juga dipajang di sini, mulai dari yang bergaya militer di tahun 40-an dan 50-an hingga seragam warna-warni pramugari Braniff rancangan desainer Emilio Pucci yang sempat menghebohkan dunia fashion dan aviasi pada masanya.

Bedanya penumpang pesawat dalam mengepak barang-barang mereka untuk dibawa bepergian dulu dan sekarang. Perhatikan jenis koper yang digunakan para penumpang puluhan tahun lalu dan di masa kini. Semakin maju perkembangan jaman, tas yang dibawa ke kabin semakin ringan dan efisien.

Seragam pramugari di tahun 1960-an yang tampak ceria dan berwarna-warni dari Braniff dan California Airlines. Meski seragam para awak kabin tampak mengikuti tren pada masanya, seragam pilot relatif tidak berubah dan bernuansa militer untuk menjaga wibawa para pemakainya.

Ada pula cermin khusus pramugari untuk mengecek penampilan sebelum berangkat terbang. Bercermin sebelum menjejakkan kaki di pesawat dulu dipraktikkan oleh airlines besar seperti United maupun Pan American Airways (Pan Am). Bahkan beberapa maskapai pada masa itu juga memberlakukan aturan ketat dan melarang pramugarinya terbang bila sang pramugari kedapatan melebihi berat badan ideal yang ditetapkan.

Museum ini sangat besar dan luas, sehingga waktu kunjungan yang awalnya hanya saya harapkan selama dua-tiga jam pun diperpanjang hingga museum tutup pada pukul 17.00 sore waktu setempat. Saya sangat menikmati kunjungan ke museum ini hingga tanpa sadar sudah menghabiskan waktu selama enam jam. Di akhir kunjungan, saya menyempatkan diri untuk mampir ke museum store yang menjual berbagai merchandise maupun memorabilia unik seputar dunia aviasi.

Kalau tidak ingat pada budget yang sudah saya tetapkan untuk kunjungan ke berbagai tempat lainnya di DC, mungkin uang saya sudah habis semua untuk membeli berbagai barang unik di museum ini. Tapi saya hanya membeli beberapa suvenir untuk diri sendiri dan juga oleh-oleh untuk teman pecinta aviasi.

Salah satu suvenir yang saya beli sebagai oleh-oleh untuk seorang teman yang juga pecinta aviasi. Jangan iri yaaa, hehehe~

Sekian laporan singkat dari kunjungan saya ke National Air and Space Museum di Washington DC. Semoga pembaca Forum Pramugari bisa berkesempatan mengunjungi museum yang keren ini suatu hari nanti.

*) Artikel dan foto merupakan tulisan dan dokumentasi milik Marintan Ompusunggu. Dilarang mengopi atau menjiplak tulisan maupun foto tanpa seizin pemilik. Penyebaran artikel melalui media sosial diperbolehkan dengan mencantumkan sumber artikel dan foto ini.

Use Facebook to Comment

comments

,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *