Cabin Crew’s Story: Habis Gelap Terbitlah Terang

Elna Maisela, pembaca setia Forum Pramugari yang akhirnya berhasil meraih cita-citanya.

Elna Maisela, pembaca setia Forum Pramugari yang akhirnya berhasil meraih cita-citanya.

Namaku Elna Maisella, saat ini aku bekerja sebagai awak kabin di salah satu perusahaan penerbangan di Indonesia, yaitu Trigana Air Service. Aku rasa tidak ada salahnya jika aku berbagi cerita dan pengalamanku untuk mendapatkan pekerjaan ini sebagai Flight Attendant. So ladies and gentleman, please make sure that your seatbelt securely fastened! Hehehe….

Aku anak paling kecil dari 6 bersaudara. Kelima kakak-kakakku sudah berkeluarga dan masing-masing dari mereka memiliki anak-anak yang lucu. Sejak kecil orang tuaku sering mengajakku bepergian naik pesawat. Entah bagaimana ceritanya, aku selalu senang memerhatikan pramugari yang menyambutku dengan ramah setiap kali aku naik pesawat. Mungkin karena itulah aku bercita-cita ingin menjadi pramugari sejak aku masih kecil.

Ketika aku beranjak SMA, keinginanku untuk menjadi pramugari setelah lulus nanti semakin kuat. Namun aku mengerti, banyak sekali diantara beberapa teman-temanku di sekolah, tidak percaya impianku ini akan terwujud. Karena ketika SMA kulitku hitam, badanku gemuk, dan aku memiliki bekas luka di kaki yang sangat mudah dilihat. Aku tetap percaya pada diriku sendiri bahwa aku bisa menggapai impianku ini.

Pada tahun 2011, saat itu aku tepat kelas 2 SMA, aku mulai rajin browsing mengenai Flight Attendant. Salah satu blog yang paling aku percayai dan selalu aku jadikan sumber informasi adalah Forum Pramugari.

Sejak menemukan blog Forum Pramugari, aku selalu rajin membuka dan mencatat setiap informasi dari beberapa reader setia FP. Seperti tips menurunkan berat badan, menghilangkan rasa gugup ketika interview, sampai tips menghilangkan bekas luka. Aku pun selalu menjalani tips tips itu.

Pada tahun 2012, aku dan teman-temanku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Beberapa dari teman-temanku juga sudah memutuskan akan melanjutkan pendidikan di Universitas ini dan itu. Hanya akulah satu-satunya siswa di kelas yang sama sekali tidak berminat untuk melanjutkan kuliah. Aku sudah terfokus pada satu titik. Yaitu menjadi pramugari. Untungnya, ibu dan almarhum ayahku selalu mendukung setiap langkah yang aku ambil, selama aku serius dan memang berniat untuk menjalaninya.

Tepat pada pertengahan 2012, program dietku berhasil (terima kasih atas tips-tipsnya dear readers setia FP). Berat badanku turun hingga 13 kg. Timbanganku menjadi 50 kg. Ya, kalian tahu kan betapa besarnya badanku sebelum aku menurunkan 13 kg? Hehehe. Setiap sore pun aku semakin rajin untuk luluran agar kulitku bersih. Aku semakin peduli untuk merawat diriku agar cita-citaku ini bukan hanya mimpi semata. Teman-temanku banyak yang shock melihat perubahan pada diriku.

Pada bulan juni 2012, aku lulus SMA. Aku memutuskan untuk sekolah di Caraka Nusantara Prima, yaitu sekolah pramugari yang resmi mendapatkan sertifikat dari Perhubungan Udara. Teman-teman seangkatanku berasal dari daerah yang berbeda-beda. Ada yang dari Palopo, Makassar. Ada yang dari Magelang namun peranakan Papua, ada yang dari Banten, sampai ada yang peranakan Belgia dan Belanda. Mereka semua memiliki karakter yang berbeda-beda. Yaa, yang penting Bhineka Tunggal Ika!

Tiga bulan menjalani pendidikan meninggalkan pengalaman yang sangat berarti dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakan kekompakan batchmateku ini, juga para instruktur yang setia mengajar kami mulai dari kepribadian, tata rias, mempelajari tipe pesawat Boeing 737-300, 400 dan 500, hingga safety. Rasanya seperti tidak ingin mengakhiri ini semua namun sesungguhnya, perjalanan baru saja di mulai!

Maskapai pertama yang kudatangi bersama teman-teman sebatch ku adalah Garuda Indonesia. Sayangnya hanya 1 dari temanku yang diterima di Garuda dan saat ini dia sudah terbang disana, si peranakan papua itu. Hihihi. Aku merasa kecewa, aku sedih dan menangis. Namun aku tahu, seperti inilah mencari pekerjaan. Tidak mudah.

Kemudian maskapai selanjutnya yang ku coba adalah Lion Air, sebenarnya aku diterima. Namun saat itu usiaku masih 17 tahun, dan minimal harus 18. Aku harus menunggu bulan mei untuk mengikuti training. Sembari menunggu bulan mei, aku mengikuti test di Batavia Air, aku dan 2 orang temanku di terima disana setelah mengikuti 3 test di setiap minggunya. Kami senang sekali! Kami diminta untuk mengisi data karyawan. Aku bergumam di dalam hatiku “Akhirnya yaa Allah…”

Pulang dari kantor Batavia, aku bercerita pada ibu dan alm. Ayahku. Mereka ikut senang mendengar kabar dariku. Setelah menunggu 2 minggu, tidak ada kabar dari Batavia untuk melanjutkan training. Temanku yang juga diterima di Batavia menerima pesan singkat dari salah satu tim rekrutmen di Batavia.

“Dear Elna, Resha dan Abi. Saat ini Batavia sedang mengalami situasi yang rumit. Ada baiknya kalian mencoba ke maskapai lain. Doakan pula yang terbaik untuk Batavia yaa…”

Karena tidak ada kepastian dari Batavia, instrukturku di Caraka memanggil angkatanku yang belum diterima di manapun untuk datang ke Caraka. Ternyata hari itu, chief Flight Attendant dan 2 instruktur dari Trigana Air Service datang ke Caraka untuk menemui kami semua. Kami diminta untuk datang ke kantor Trigana seminggu setelah hari itu.

Seminggu kemudian aku dan teman-temanku yang lainnya datang ke kantor Trigana Air Service. Aku diantar ibu dan tanteku. Satu per satu dari kami dipanggil untuk di interview. Saat aku di panggil ke dalam, aku sangat gugup. Aku diminta untuk menimbang berat badanku. Kemudian aku diwawancarai oleh chief FA dan salah satu instruktur. Untungnya, aku bisa menjawab semua pertanyaan yang hampir secara keseluruhan mengenai safety. Setelah di interview aku langsung pulang ke rumah dan menceritakannya pada alm. Ayahku.

Selfie sejenak bersama engine-nya Boeing 737-400 milik Trigana yang sedang parkir di bandar udara Juanda Surabaya di Sidoarjo.

Selfie sejenak bersama engine-nya Boeing 737-400 milik Trigana yang sedang parkir di bandar udara Juanda Surabaya di Sidoarjo.

Foto ini di ambil di bandar udara Karel Satsuitubun, Langgur. Aku (kanan) bersama senior awak kabin ku berfoto di depan pesawat ATR 42 milik Trigana.

Foto ini di ambil di bandar udara Karel Satsuitubun, Langgur. Aku (kanan) bersama senior awak kabin ku berfoto di depan pesawat ATR 42 milik Trigana.

Dua hari kemudian aku menerima pesan singkat dari chief FA Trigana. Aku diminta untuk mengikuti psikotest di LAKESPRA di daerah Cawang, Jakarta. Pada saat psikotest, aku telat. Jakarta memang tidak bisa diprediksi lalu lintasnya. Mau jam berapapun kita berangkat dari rumah, pasti kejebak macet. Ketika aku masuk ke dalam kelas, semua sedang mengerjakan soal psikotest. Untungnya aku bisa mengerjakan semua soal dengan baik.

Satu minggu kemudian aku mendapat kabar baik, hasil psikotest ku bagus. Dan aku melanjutkan ke tahap Medical Check Up. Saat itu, aku ingat sekali… Aku baru saja diopname karena sakit typhus. Dokter bilang aku kecapekan dan makan tidak teratur.

Benar saja, ketika aku Medical Check Up, hasil darahku menunjukkan kelebihan leucocyd atau kelebihan sel darah putih. Akibat aku baru sembuh sakit. Untungnya chief FA ku sangat baik, beliau masih mengijinkan aku untuk mengembalikan sel darah putihku menjadi normal kembali. Satu minggu kemudian, setelah aku minum vitamin ini dan itu, aku kembali Medical Check Up dan akhirnya Leucocyd-ku kembali di angka normal.

Aku sangat senang sekali! Rasanya perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Aku dipanggil ke kantor untuk mengukur seragam, mengambil koper dan sepatu. Menjalani training selama 2 minggu lebih, dan akan sign kontrak pada awal januari 2013. Ke dua orang tuaku tak henti-henti memelukku ketika mengetahui aku akan sign kontrak januari nanti. Mereka juga menceritakan kepada kakak-kakak ku yang lainnya.

Tepat pada tanggal 30 desember 2012, siang itu aku berada di RSPP Kebayoran. Ayahku dirawat dan didiagnosa menderita penyakit sirosis atau rusaknya fungsi sel-sel di hati. Aku masih sempat melaksanakan shalat dzuhur di kamar tempat ayahku dirawat. Aku berdoa semoga ayahku bisa segera sembuh dan kembali beraktivitas. Selesai shalat, aku menarik kursi dan kuletakkan disebelah kasur ayahku. Aku memegang tangannya. Mulutnya tertutup oleh masker yang tersambung dengan botol oxygen. Matanya terpejam, namun ayahku masih berusaha untuk bicara. Kata-kata yang paling ku ingat saat itu adalah;

“Yaa Allah, kenapa tenggorokan ku sakit sekali… Izinkan aku mendengar suara anak-anakku untuk terakhir kalinya yaa Allah..” Aku hanya bisa menangis dan memandu ayahku untuk melantunkan kalimat laa ilaaha illallah.

Namun sayang sekali, pada pukul 17.55 ayahku menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya.

Bersama alm. ayahku yang meninggal dunia sehari sebelum aku tanda tangan kontrak dengan Trigana Air.

Bersama alm. ayahku yang meninggal dunia sehari sebelum aku tanda tangan kontrak dengan Trigana Air.

Rasanya seperti disambar petir yang sangat besar. Separuh dari bagian hidupku seperti hilang. Ayahku adalah sosok yang paling dekat denganku. Beliau selalu memberiku semangat dan support setiap kali aku gagal saat melamar kerja. Aku tahu, semua yang terjadi di dalam hidup ku adalah skenario yang telah dibuat oleh sang pencipta. Tidak ada yang perlu disesali.

Aku bisa mengambil kesimpulan, mungkin ayahku memang sudah harus meninggalkan ke-enam anaknya, karena kami semua sudah mandiri. Aku sudah mendapat pekerjaan dan kakak-kakakku sudah berkeluarga semua. Tinggal ibuku semata yang saat ini harus aku jaga & aku bahagiakan semampuku.

Papa, meskipun papa belum sempat melihat Dena terbang, mengenakan seragam, menarik koper, dan mencium tangan papa untuk pamit berangkat ke bandara… Dena tahu, papa selalu melihat Dena dari kejauhan sana. Love you, Pa!

Twitter: @elnamai
Instagram: @imelna
Path: Elna Maisella
Facebook: Elna Maisella

 

*Note: Are you a cabin crew? Have inspiring or interesting stories about your job? Do share with fellow wannabes at Forum Pramugari. Send your story and photos to forumpramugari@gmail.com with email subject “Cabin Crew’s Story”. Don’t think you have a talent for writing? Just contact Forum Pramugari team via email and we will interview you. We will do the magic for your inspiring story. Sharing is caring 😀

Use Facebook to Comment

comments

,
One comment on “Cabin Crew’s Story: Habis Gelap Terbitlah Terang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *