[Part 2] Cabin Crew’s Story: Anak Penjual Nasi Uduk Jadi Pramugara

Ferza bersama temannya sedang mengikuti flight attendant initial training.

Saya bersama teman sedang mengikuti flight attendant initial training.

Tim penilai mulai membacakan nomor urut kandidat yang lulus.

“Nomor dua!”

“Nomor tiga belas!”

Semakin banyak nomor urut yang dia ucapkan, semakin deras pula keringat dingin mengucur dari kening saya.

“Nomor lima puluh lima!”

Saya sudah mulai tidak fokus.

“Nomor SEMBILAN PULUH DUA!”

Dengan sigap saya langsung mengangkat tangan dan menuju ke barisan kandidat yang lulus.

Subhanallah, Alhamdulillah ya Allah… Akhirnya sudah terpilih empat puluh orang yang lulus, termasuk saya. Kami pun diberikan arahan bahwa kami akan dites interview dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ya, saya siap!

Day 2: Interview

Sekarang tesnya diselenggarakan di ruang HRD. Satu per satu dari kami dipanggil untuk mengikuti interview. Setelah hampir sejam menunggu, giliran saya pun tiba. Rasa tegang semakin menjadi. Tapi saya bertekad untuk bisa mengalahkan rasa tegang itu. Saya duduk menghadap sang interviewer, seakan ingin berkata, “Yo, mulai!”

Di luar dugaan, interviewer yang saya hadapi bersikap ramah dan tersenyum dengan tulus. Dia memulai sesi wawancara dengan menanyakan latar belakang pendidikan saya. Syarat untuk rekrutmen flight attendant ini adalah minimal SMA. Saya pun menerangkan bahwa saya lulus SMA pada tahun 2010 lalu.

Interview yang saya hadapi ternyata tidak sekaku yang saya bayangkan. Kami seperti sedang mengobrol akrab pada saat itu. Meski begitu tetap harus diingat bahwa menjaga sikap tetaplah penting. Sikap duduk dan bahasa tubuh sangat diperhatikan selama interview.

Sang interviewer pun menanyakan pengalaman bekerja saya. Saya ceritakan bahwa pada tahun 2010 saya bekerja sebagai ground staff di Bandara Soekarno-Hatta. Rupanya ini menarik perhatiannya, sehingga saya pun dihujani beragam pertanyaan seputar airlines. Mulai dari airport code, beragam form pesawat hingga jenisnya. Beruntung saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan baik, meski sudah dua tahun berselang sejak saya bekerja di sana.

Saya pun diberi sebuah beberapa contoh kasus untuk dijawab, mulai dari menghandle complain serta menjajal logika bila dihadapkan pada situasi darurat di pesawat. Berhubung saya tidak pernah menerima pelajaran berkaitan emergency procedures, saya pun menjawabnya sesuai dengan logika, hehehe~

Semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja hingga kemudian dia bertanya, “What is your parents’ job?”. Tanpa ragu, saya pun menjawab, “They work together to sell some foods for breakfast, like nasi uduk, nasi kuning, and many more, at my sister’s school.”

Dia diam. Diam yang sampai sekarang saya belum mengerti maknanya apa.

Selesai interview, kami diminta untuk menunggu di lantai dasar. Lagi-lagi kamu harus menunggu cukup lama. Menjelang maghrib barulah diumumkan bahwa hanya ada tujuh belas orang yang lulus ke jenjang pendidikan.

Dia juga mengumumkan bahwa yang lulus terbagi dalam dua kelompok, yaitu Grade A dan Grade B. Grade A adalah mereka yang lulus dan akan mengikuti masa pendidikan selama tiga bulan, sedangkan Grade B adalah mereka yang lulus dan akan mengikuti masa pendidikan empat bulan (satu bulan digunakan untuk pendidikan khusus Bahasa Inggris).

Sehelai kertas pengumuman hasil tes akhir pun ditempelkan ke sebuah papan. Kami segera berkerumun untuk melihat hasil pengumuman tersebut.

Alhamdulillah…. Subhanallah, terima kasih ya Allah… Saya dinyatakan lulus dengan status Grade A!

Ferza,pramugara yang hobi naik gunung.

Sambil menunggu kabar dari tim rekrutmen, saya bersiap ke Wonosobo untuk naik gunung.

Day 3: Medical Check Up

Meski sudah dinyatakan lulus, saya masih harus melewati satu tahapan lagi, yaitu medical check up. Jadwal medical check up dikabari via sms.

Beberapa hari sesudah dinyatakan lulus, saya sedang dalam perjalanan menuju Wonosobo untuk hiking. Ya, memang saya sangat hobi naik gunung. Saya tiba di stasiun Lebak Bulus. Tas carrier sudah di punggung, begitu pun tas kecil yang melilit di pinggang. Semuanya sudah siap.

Namun saat handphone saya berbunyi dan sms berisi jadwal medical check up saya terima, saya harus membatalkan perjalanan. Sebab medical check up akan dilaksanakan besok harinya.

Saat medical check up, serangkaian tes harus saya jalani. Mulai dari tes darah, tes buta warna, hepatitis, hingga pernapasan. Satu per satu dari kami mengikuti tes tersebut. Saya menjalaninya dengan cukup santai karena saat itu sedang dalam kondisi fit. Namun hasil tes tidak diumumkan hari itu juga, lagi-lagi kami masih harus menunggu.

Hari demi hari saya menunggu. Cukup lama, sampai saya bisa menebus perjalanan hiking ke Wonosobo yang sebelumnya batal. Beberapa hari setelah pulang dari sana, barulah saya mendapat kabar via sms.

Subhanallah… Alhamdulillah… Saya dinyatakan lulus lagi dan hanya diminta untuk menjalani proses administrasi saja.

Saya percaya semua sudah diatur oleh-Nya. Rencana-Nya adalah yang terbaik dan restu orangtua adalah perantara-Nya.

Setelah menandatangani proses administrasi, akhirnya saya pun menandatangani kontrak kerja selama empat tahun. Sebelumnya saya harus menjalani pendidikan initial selama tiga bulan.

Sampai sekarang saya tidak hentinya mengucap syukur. Bersyukur atas apa yang saya dapat dan boleh saya jalani. Bersyukur karena saya bisa membanggakan kedua orangtua saya dan tidak membuat mereka tidak sia-sia mempunyai seorang anak seperti saya. Semua ini saya persembahkan untuk keluarga saya tercinta.

Dari anakmu,
Ferza Febrian

~ The End ~

*Story and photos by: Ferza Febrian
**Edited by: Diyas Aryani and Dearmarintan

Note: Are you a cabin crew? Have inspiring or interesting stories about your job? Do share with fellow wannabes at Forum Pramugari. Send your story and photos to forumpramugari@gmail.com with email subject “Cabin Crew’s Story”. Don’t think you have a talent for writing? Just contact me via email, I’ll interview you in person and do the magic for your inspiring story. Sharing is caring 😀

Use Facebook to Comment

comments

,
16 comments to “[Part 2] Cabin Crew’s Story: Anak Penjual Nasi Uduk Jadi Pramugara”
    • “The More Your Fight For Something… The More You Will Appreciate It When You Get It” :))

      i am also coming from the ground.
      and you two guys (Ferza & Catatan Pramugara *ini yg cerita pramugara cathay itu kan?), inspired me a lot.

      i promise to my self, that i will never give up for this job..

      keep your fingers crossed for me guys”

  1. Well done! u can use ur experience in local airlines to move forward and work for international airlines such as Emirates,Cathay,Qatar or Etihad. Try Emirates first, coz they give the best package among all airlines ( free accommodation,transportation,uniform laundry,90% discounted unlimited tickets,pocket money allowance and many more! however,other airlines r good too! Pramugara Emirates here 🙂

  2. perjalananmu sungguh mulia saudara, saya harap saudara bisa memberikan hadiah terbesar buat ibu saudara.
    berikan dia senyuman yang terindah..senyuman di mana di hadapkan di tanah suci..saya harap saudara bisa memberikan senyuman itu untuk ibu saudara.karena doa beliaulah anda bisa mencapai puncak karier.
    sayangi ibu dan jaga serta rawatlah ibu, karena ibu lah yang bisa memberikan kita kebahagian

  3. Wah Ferza, aku salut deh sama kamu.
    Kayaknya aku pernah ketemu deh sama kamu, kalau ga salah diperekrutan LION AIR September 2012 silam. kamu pas performance ditanya2 sama ibuk2 rambut pendek bewarna kan? hehehe, semoga saja aku ga salah lihat. 🙂

    salam kenal ya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *