[Part 2] Cabin Crew’s Story: Anak Kampung Juga Bisa!

Doni with the other Indonesian flight attendants

Spread my wings and fly! Well, It is not easy…

Sekarang, setelah 7 bulan saya menjadi pramugara hidup saya benar-benar berubah. Saya mengunjungi kota-kota yang dulu hanya menjadi mimpi bagi saya. Well, you name it. Dari London sampai New York, dari Tokyo sampai New Delhi. Saya bisa sarapan di Dubai, makan siang di Hong Kong dan makan malam di Surabaya di hotel bintang lima sebagai fasilitas yang diberikan kepada kami.

Dibalik semua kemewahan itu, pekerjaan ini tidaklah mudah. It’s hard, I’m telling you..

Kita mulai dari perbedaan budaya. Karena pramugari/a di Cathay Pacific dari berbagai macam bangsa, kadang-kadang saya menemukan kendala dalam dalam bersikap dan berkomunikasi. Kita harus bisa mengerti dan mempelajari adat dan sikap bangsa lain. Selain itu saya bekerja dengan orang yang berbeda setiap harinya. Cathay Pacific mempunyai kurang lebih hampir 9000 pramugari/a yang terbagi menjadi Hong Kong based, Singapore based, Bangkok base, Vancouver based, Toronto based, London Based, Los Angeles based dan San Francisco based. Tidak mudah untuk menyesuaikan diri tiap harinya karena saya selalu bekerja dengan orang dan tim yang berbeda. Perkenalan dimulai di ruang briefing sebelum terbang sambil berkata “ Hi, I am Doni from Indonesia” sampai tugas terbang berakhir. Setelah itu, mungkin saya tidak akan pernah melihatnya lagi.

Cathay Pacific Indonesian Flight Attendants

Jetlag. Salah satu musuh terbesar kami, para pramugari/a. bayangkan saja saya terbang ke New York, menempuh waktu 16 jam terbang dan kota itu mempunyai waktu berbeda 12 jam dengan Hong Kong. Setelah tiga hari di New York saya harus kembali ke Hong Kong dan mengikuti waktu lokal. Pola tidur saya tidak pernah teratur. Tidur malam hari dan siang hari rasanya sama saja. Daya tahan tubuh akan menurun secara drastis bila kita tidak mengkonsumsi multivitamin dan rajin berolahraga.

Kehidupan sosial yang sangat minim. Karena siklus hidup yang berbeda dari orang pada umumnya, saya hanya punya sedikit waktu untuk bersosialisasi, bahkan dengan teman sesama profesi karena jadwal terbang yang berbeda. Internet merupakan sarana terbaik untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.

Jadi dari semua keglamouran itu, ada harga yang harus dibayar. Kalau kita merasa cocok dan bisa mengatasi hal tersebut, setiap hari akan terasa seperti liburan. Tapi apabila tidak, ini akan menjadi hal yang sangat berat.

Me? I love my job and everyday is holiday! See you onboard!

Doni in Samcheong-dong Bukchon, Seoul

FLIGHT ATTENDANT IS NOT ONLY A JOB, IT’S A LIFESTYLE.

Use Facebook to Comment

comments

,
24 comments on “[Part 2] Cabin Crew’s Story: Anak Kampung Juga Bisa!
  1. Well, I always give my best appreciation to this job. Couple of times being failed in cabin crew recruitment from any airlines won’t make me stop dreaming of being a flight attendant. I’m jealous with you and Emma. Krik! Anyway, happy working! God bless! 🙂

  2. Hi Doni, you are outstanding! congratz for u yah..ur story inspired me so much..and im so blessed to be part of this forum, thanks much for ur kind heart may God bless you as always.

    Anyway, Doni aku mau nanya kemaren aku sempat ngikutin seleksi utk Qatar Airlines, tapi begitu masuk di Group Discussionnya yg ke 2 aku gagal, ini kali pertamaku ngikutin ajang seleksi yang beginian, aku bingung..perasaan jawaban dan solusi yg aku jabarkan sudah cukup baik, Karena aku pya background hotel yg lumayan lama, jadi aku hampir tdk mengalamai kendala utk menjawab pertanyaan dan berinteraksi dengan peserta yg lain. Doni, bagi tips apa yang harus aku lakukan utk kedepannya biar aku tdk gagal lagi 🙁 ? sikap seperti apa yang baik menurut pengalaman kamu? mudah2an pertanyaan aku mewakili beberapa teman yang lain. Sebelum dan sesudahnya, aku ucapkan makasih yah Don! All the best 🙂

  3. semua pekerjaan bisa saja kita jalani jika serius. memang pekerjaan awak kabin sangat menyenangkan. saya juga pernah menjadi awak kabin sebuah maskapai bintang 4 di Indonesia. benar juga cerita mas doni di atas. namun sekarang saya meninggalkan pekerjaan tersebut dan beralih ke dunia jurnalis yang bayarannya tidak seperti di penerbangan. jauh berbeda. tentu nya ada alasan saya mengapa saya sampai memilih meninggalkan pekerjaan itu. berikut pertimbangan saya :
    – saat ini tidak ada airlines yang memberikan status tetap pada cabin crew
    – kita kalah dalam bersosialisasi mengingat apabila saat kita mendarat, kita biasanya langsung istirahat
    – tak bisa dipungkiri, penampilan adalah salah satu nilai jual pada pekerjaan ini. bagaimana jika suatu saat nanti saya keriput? ubanan?
    -lifestyle pun ikut berubah jika kita menjadi awak kabin. bagaimana jika saya nanti tidak bekerja sebagai awak kabin lagi? pasti sulit menyesuaikan ke kehidupan biasa.
    – memang pendidikan dan pelatihan di penerbangan berat sekali. banyak yang harus dipahami. namun saya katakan, tidak banyak implementasinya pada kegiatan yang dilakukan pada saat bertugas.
    – karna kegiatan yang kita lakukan selalu hampir sama, maka saya katakan lagi bahwa pengetahuan dan wawasan kita tidak akan bertambah.

    itu sebagian pertimbangan saya. buat para wanita, mungkin pekerjaan ini tidak masalah. namun buat para lelaki, saya sarankan untuk menjadi pe bisnis atau cari pekerjaan yang tetap dan nmengandalkan skill bukan hanya performance. thanks….

  4. aku ga kenal kamu tp seneng baca cerita kamu,sangat menginspirasi 😀
    aku baru sekali coba ngelamar ke garuda tp ga lolos..
    besides i dont have perfect teeth well…

  5. Huhu…beruntungnya kalian…
    Sementara Aq harus membunuh cita2ku
    Lantaran pas cek tinggi cma 152cm hiks hiks
    Mana umurku sdah 23 thn ga Ada harapan tuk tinggi lg…

  6. kereen :’) to be a steward is one choose in my life , be a steward is my daydreaming . yang punya info test pramugara share yaa .

    twit : @oyondshapi

  7. heiiii aku blh tanya don, kapan cathay buka untung jakarta lagi?asap yah u can add my pin 25f7d632,face book felton lay new my email felten,lay@gmail.com thx alot !!

  8. mau tanya dan mau banget dijawab, for sure.. untuk jadi cabin crew/fa cathay pacific harus bisa bahasa mandarin/cantonese ya? jadi walu bahasa inggris fasih tetep gak bisa?

  9. @Doni : saluttt baca ceritamu! smoga sukses selalu. memang ada harga yg hrs dibayar saat kita memutuskan utk melakukan sesuatu, trutama pkerjaan kita.. tapi bner kata kamu, kalo kita merasa cocok & bisa mengatasi hal tersebut, maka stiap hari akan trasa seperti liburan. makasih buat share pengalamanmu! aku jadi tmbh semangat! 😀

  10. Hi Don, thanks for sharing the info. Just curious about the salary? Any different betwen London Based and Hong Kong based? How much approx you take monthly? What about other fringe benefit? How many staff ticket you are entitled to on CX flight? and on ZED carriers? Fare paid are the same between CX flight and ZED carriers?
    Curently, I am also working for an European Airlines and intend to move to CX.
    Many thanks for info and look forward to hearing from you soon.
    Carlos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *